03 Desember 2010

mwathirika : di mata seorang suryo hapsoro a.k.a yoyok ...

 

 (suryo hapsoro is a student of Gadjah Mada University, who joined Mwathirika production as the production staff .. he is also a winner of a writing competition... thank you ade' yoyoook!!!)

Tentang Cinta dan Goresan Luka


Pada tanggal 1 - 3 Desember telah terselenggara sebuah pementasan, MWATHIRIKA. Pentas yang menuai banyak pujian dan menguras banyak air mata ini menurut saya sangat inspirasional. Bangga dan gembira bisa menjadi salah satu bagian dari prosesnya. Terima kasih untuk Mbak Ria, Mas Iwan, dan Frau Aniek yang bersedia menampung saya untuk belajar.

Mengisahkan tentang kehidupan bertetangga Baba, seorang ayah bertangan satu, yang hidup dengan dua anaknya, Moyo dan Tupu. Damai melingkupi kehidupan mereka dengan tetangganya Haki dan anaknya yang harus memakai kursi roda, Lacuna.

Tapi tentram itu harus tercabut dalam hidup mereka hanya karena coretan segitiga merah oleh orang tak dikenal. Goresan pertanda si empunya rumah harus ditangkap tidak jelas alasannya apa. Satu yang jelas mengapa Baba ditangkap adalah karena ia “ditandai”. Moyo, ingin mencari keberadaan ayahnya. Ia menanyakan pada orang yang berseragam sama dengan yang menangkap ayahnya. Lagi-lagi Moyo harus ditangkap hanya karena ia punya “tanda”. 

Lacuna, sebagai teman ingin menghibur tetangganya Tupu yang sekarang tinggal sendirian setelah ayah dan kakaknya hilang. Tapi Haki selalu melarang Lacuna mendekati Tupu karena takut terkena “tanda” juga.
Pada akhirnya memang semuanya merasakan kesedihan. Semua menjadi korban, sesuai dengan arti kata mwathirika yang diambil dari bahasa Swahili artinya korban dalam bahasa Indonesia.



Dua hal setidaknya yang bisa saya temukan dan sampaikan :

Pertama tentang dua keluarga yang ada anggotanya tidak lengkap fungsi tubuhnya. Baba dan Lacuna menggambarkan sosok yang merasakan suatu kehilangan. Dalam pentas yang didedikasikan untuk penderita tuna rungu pada hari Deaf International (3 Desember), seakan mengingatkan bahwa antara mereka mungkin sama-sama memiliki rasa kehilangan, tapi mereka masih punya satu hal yang sama yang tidak akan hilang dalam hidup mereka. Cinta. Kita dan mereka masih punya hak yang sama untuk mencintai dan dicintai.

Baba seorang ayah yang sangat mencintai kedua anaknya. Bahkan ketika ia ditangkap oleh dua prajurit, masih juga menyempatkan diri untuk memperbaiki kuda mainan milik anaknya Tupu. Tidak jauh berbeda dengan Moyo. Seorang kakak yang belum saatnya harus bertanggung jawab penuh atas adik kecilnya yang sangat dicintainya.

Haki juga merepresentasikan sosok ayah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki seorang anak yang lumpuh, dengan segala ketahuan dan ketidaktahuan, ketakutan dan keberanian, berusaha menjaga anak tercintanya supaya tidak sampai terjadi kesalahpahaman. Walaupun memang akhirnya tidak berhasil mencapai keinginannya menjaga, Lacuna, anaknya tersebut.

Saya berusaha melihat secara lebih mendalam. Bukan tidak mungkin kalau apa yang terjadi dengan anaknya itu adalah karena ketakutan Haki mengungkapkan fakta. Sekadar melarang tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sekadar menimbulkan ketakutan yang dipaksakan tanpa kognisi yang memadai.
Mirip dengan apa yang terjadi pada periode paska Gestapu, periode yang menjadi inspirasi pentas MWATHIRIKA ini. Dalam ceritanya hanya dikatakan bahwa si “segitiga” itu salah. Mereka harus dibasmi. Mereka tidak boleh didekati, dan mereka itu berbahaya. Padahal apa yang terjadi ketika memaksakan perlakuan dengan berbekal hanya sedikit tahu, sangat mungkin mengakibatkan bahaya yang lebih besar tanpa disadari sebelumnya.

Kedua tentang gores luka yang diingatkan. Dengan misi mengajak melakukan rememorasi, MWATHIRIKA berhasil merealisasikan suatu usaha yang kadang tidak terpikir oleh kita semua. Mengisahkan kembali tentang sejarah. Sejarah tentang ingatan masa lalu yang memang tidak selalu indah.
“ingatan tidak hanya sekadar luka goresan tapi mengenali luka bekas goresan tersebut”. Artinya sejarah bukan hanya sebatas diingat, tapi juga diperlukan pemaknaan atas suatu kejadian di masa lampau untuk lebih dapat dikatakan berhasil “mengingat”.

Banyak hal yang baru saya tahu ketika melihat simbol-simbol yang tervisualkan dalam pentas teater boneka ini. Sebelumnya jarang pernah saya mendengar cerita tentang Gestapu dan kejadian setelahnya. Pengetahuan saya hanya sebatas penculikan tujuh pahlawan revolusi, Tritura, dan tanda ET (Eks Tapol) pada KTP.
Cerita tentang pesta ulang tahun partai itu, lambang segitiga merah, cara pemusnahan dengan dilempar ke jurang dan yang lainnya baru saya temukan dari menonton pertunjukkan MWATHIRIKA ini.

Mengutip kata-kata dari Paul Ricoeur, “and the tiniest way of paying out debt is to tell and retell what happened.. by remembering and telling, we’re not only prevent forgetfulness from killing the victims twice, we also prevent their life stories from becoming banal., and the events from appearing as necessary” .

MWATHIRIKA berhasil membantu saya mengenali goresan luka itu dan menghidupkan kembali jejak tentang masa kelabu 45 tahun yang lalu.

Gondomana, 4 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar