09 Maret 2011

MWATHIRIKA : in the eye of aranti adriarani...

( aranti adriarani was one of the audience of MWATHIRIKA in Jakarta) 


Mwathirika, the amazing puppet show

Tanggal 18 Januari kemarin Papermoon Puppet Theatre yang jauh-jauh datang dari Jogja mengadakan pertunjukan untuk pertama kalinya di Jakarta. Karena teman saya Amanda Mita adalah salah satu pemainnya, maka saya, Mbak Dinda, dan Mas Fajar meluncur ke Goethe Haus. Wah sempat ada berita heboh di twitter, katanya ada demo FPI di depan Goethe. Lho kok bisa? Hmmm ternyata belakangan saya baru tahu kalau tema acara di sana mengangkat sejarah kelam masa-masa PKI. Tapi waktu saya sampai di sana dan melihat-lihat pamerannya, "

"Wah mana ya yang bikin kontroversial?"

Ternyata tidak ada kok. Ah ini mah si pendemo-pendemonya nggak ngerti isi acaranya yang sebenarnya nih.



Ini pertama kalinya saya menonton puppet show. Yang terbayang di otak saya adalah orang-orang berkostum boneka, atau memainkan boneka tanpa harus menampakan si "pemberi nyawa" nya. Masuk ke gedung pertunjukan, kami sudah dibikin senang duluan karena pertunjukan ini gratis! Ahey! Hehehehe. Melihat dekorasinya tidak terlalu muluk-muluk, tapi bentuk propertinya terlihat kompleks. Daan benar saja. Propertinya didesain bisa diputar, dibuka tutup dengan tuas ataupun katrol, dan ada bentuk bangunan dengan mata di atasnya yang bisa dibuka tutup. Kereen!

Pertunjukan ini adalah pertunjukan visual dengan media boneka. Sesekali boneka tersebut bersuara tetapi hanya untuk memanggil nama satu sama lain. Boneka tersebut dibuat "hidup" terkadang oleh 3 orang bersamaan, atau cukup 1 orang saja. Yang membuat saya takjub, sosok pemain boneka bisa "menghilang" sehingga yang penonton lihat hanya terfokus pada bonekanya. Bahasa tubuh di boneka benar-benar dibuat cantik sekali. Seakan-akan benar-benar hidup.


Cerita yang diangkat di sini bukan lantas tentang sejarah PKI. Simpel saja kok. Tentang seorang anak perempuan bernama Tupu yang tinggal bersama kakak laki-lakinya, Moyo dan ayahnya. Mereka hidup bertetangga dengan laki-laki dan anaknya yang duduk di kursi roda. Hidup mereka berubah dan mulai diliputi kecemasan ketika sebuah segitiga merah tercoreng di jendela ayah Moyo.

Emosi yang disajikan di sini benar-benar bisa dirasakan penonton. Jujur saja, kalau yang namanya menonton teater pasti ada titik bosannya, hanya beberapa detik sekalipun. Tapi ini tidak sama sekali! Saya benar-benar terhanyut dalam cerita. Emosi saya dipermainkan oleh pemain-pemain ini. Ah pasti berat sekali mereka latihan. Salut!

Selesai pertunjukan, saya sempat berfoto dengan boneka-boneka ini dan benar saja lho, saya merasa kalau mereka benar-benar "hidup" hehehhe. Dasar memang saya penakut juga. Dan saya akhirnya menemukan rahasia cara menggerakan boneka-boneka itu. Wah ternyata cara bermain boneka seperti ini diadaptasi dari Jepang lho.
Ini diselipkan di kaki pemain boneka, jadi sambil mereka duduk di bangku kayu beroda, mereka bisa leluasa memainkan kaki si boneka, memberikan kesan si boneka berjalan kaki

Mita dan Tupu
Bapak tetangga
Moyo


Salut buat Papermoon Puppet Theatre! Ayo manggung lagi! :)


Aranti adriarani can be found HERE


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar