15 Desember 2010

the exhibition : "Artworks of MWATHIRIKA"

 

this is an exhibition of iwan effendi feat.papermoon puppet theatre !

we were so excited for this exhibition! MWATHIRIKA is coming up again!














please visit the exhibition at:

Tembi Contemporary
Jl.Parangtritis km.8,5 , Tembi,
Timbulharjo, Sewon, 
Bantul-Yogyakarta

december 14th, 2010-january 2nd, 2011
@ 10.00am -6.00pm

11 Desember 2010

mwathirika : ditemukan di blog bernama SAWOT..

Merah Berubah Menjadi Abu-abu

Priiiittt....priiittt.....priiitt.....(Suara peluit merah Tupu)



Suara-suara pergerakan telah dielu-elukan
Balon dan bendera merah telah dibagikan
Gegap gempita begitu menggelora dan menyegarkan pikiran
Dua orang anak dan seorang ayah yang veteran perang
Hidup di dalam dinamika pergerakan yang terjadi

Keramahan dan persaudaraan begitu lekat dan hangat
tanpa sekat dan hanya ada kebahagian di dalamnya
Hingga akhirnya merah menjadi dosa
menjadi pembunuh mimpi-mimpi yang ada.

Ayah pun ketahuan merahnya
digaruklah ia oleh para serdadu bersenjata dingin itu
tinggal kakak dan adik yang hidup tanpa arah tujuan
Kakak yang mencari ayah
Ikut tergaruk karena merahnya peluit yang dikalungkan
hanya tinggal sang adik
duduk, menunggu, sambil meniupkan peluit
berharap sang kakak atau ayah datang
seperti yang biasa mereka lakukan
mendekapnya dalam pelukan hangat
tapi mereka tak mungkin kembali
hanya sang adik sendiri
yang menunggu di tengah lalu lalang para serdadu bersenjata dingin
dan juga kematian yang begitu manis menawarkan senyuman

Dan inilah caranya merah berubah menjadi abu-abu
ke abu-abu an menutupi kehilangan ayah dan kakak
hanya tinggal sang adik, yang hilang di tengah dekapan kematian yang begitu hangat
jauh lebih ramah dibandingkan para serdadu bersenjata dingin itu
bahkan mungkin engkau!

(Terinspirasi oleh jalan cerita pementasan Teater boneka yang berjudul Mwathirika, di adakan oleh Papermoon Puppet Theater di LIP, Jumat (3/12))
 

thank you for this sweet, poems, sawot.. :)

06 Desember 2010

the media review about MWATHIRIKA


some of the newspapers...

kompas nasional, 5 desember 2010

radar Jogja, 5 desember 2010

bernas jogja, 3 desember 2010

harian jogja, 2 desember 2010

kedaulatan rakyat, 2 desember 2010

koran tempo, 2 desember 2010

koran merapi, 2 desember 2010


e-news :

http://jogjanews.com/2010/12/02/pentas-teater-boneka-papermoon-mwathirika-saat-boneka-seperti-berubah-manusia/

Pentas Teater Boneka Papermoon “Mwathirika”, Saat Boneka Seperti Berubah Manusia

Desember 2nd, 2010 | 15:55
Adegan ketika Baba (ayah Moyo dan Tupu) berpamitan kepada Moyo dan Tupu. Sementara dua petugas keamanan menunggu Baba berpamitan. Inilah salah satu adegan dalam pementasan teater boneka Papermoon dalam judul "Mwathirika" di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Selasa (30/11).
Kisah G30S/PKI sudah dihadirkan dalam film. Juga telah diterbitkan dalam bentuk buku. Bagaimana jika kisah tersebut ditampilkan dalam pementasan teater boneka?
Itulah yang dilakukan Teater Boneka Papermoon pada empat hari berurutan, Selasa (30/11) hingga Jum’at (3/12) di auditorium Lembaga Indonesia Perancis (LIP).
Kisah sejarah bangsa mengenai tragedi paska September 1965 (kisah G30S/PKI) yang dianggap kelam ini, dipentaskan dengan memukau oleh Teater Boneka Papermoon.
Penonton seperti tidak sedang menyaksikan pementasan teater boneka.  Boneka-boneka itu seperti hidup layaknya manusia yang sedang pentas teater.
Gerakan-gerakan boneka memang dilakukan para pemain dari Papermoon, namun kesan boneka itu seperti hidup sendiri begitu kuat hadir dalam pementasan ini. Boneka itu seperti bisa bernafas, bisa marah, bisa bergembira atau ekspresi-ekspresi lainnya.
“Lebih ke rasa, tujuannya ke emosi,” ujar Maria Tri Sulistyani, art director Teater Boneka Papermoon mengenai pementasan Mwathirika. Permainan perasaan ini hadir melalui kombinasi cerita, artistik pementasan, permainan boneka.
Cerita tentang G30S/PKI dipilih karena cerita ini begitu menyentuh sisi psikologis penonton mengingat cerita G30S/PKI adalah sejarah abu-abu bangsa Indonesia yang menghadirkan cerita tentang manusia yang dihilangkan sekaligus menghilangkan.
Tentang hal ini, Ria mengatakan sejarah memang harus diceritakan terus menerus, sekaligus sejarah ini mengulik emosi penonton  lebih dalam. Dengan dipentaskan menggunakan boneka diharapkan efeknya lebih banyak.
Judul pementasan teater boneka Papermoon, Mwathirika juga dibuat untuk mewakili cerita tentang sejarah abu-abu bangsa Indonesia itu. Mwathirika itu adalah sebuah kata yang berasal dari suku Swahili di Afrika Utara yang berarti korban.
Sisi artistik pementasan juga sangat mendukung pementasan Mwathirika. Layar lebar tipis yang digunakan sebagai salah satu properti pentas juga digunakan sebagai bagian dari pementasan. Melalui lampu sorot dari sebuah proyektor yang diproyeksikan himpunan garis membentuk angka.
Angka-angka itu adalah jumlah orang-orang yang hilang ditangkap pihak keamanan karena dianggap terlibat dalam G30S/PKI. “Angka-angka itu menjelaskan sejarah tentang rasa, perasaan seperti apa rasa kehilangan dan rasa menghilangkan,” kata Iwan Effendi, artistic designer pementasan Mwathirika.
Pentas Mwathirika menggunakan tujuh boneka dan 11 topeng. Boneka-boneka yang digunakan ini berasal dari Jepang bernama Bunroku dan Kuruma Ningyo. Ria mengatakan boneka Bunroku dan Kuruma Ningyo memiliki karakter intim yang kuat yang sangat mendukung pementasan Mwathirika yang sangat membutuhkan boneka-boneka yang menghadirkan suatu karakter yang kuat. (lihat: http://jogjanews.com/2010/11/27/rabu-jumat-teater-boneka-papermoon-akan-pentaskan-mwathirika/)
“Gerakan itu hal yang utama, banyak ngomong kadang tidak membawa hasil tapi dengan gerakan dapat menyimpulkan sesuatu yang banyak,” ujar Ria.
Boneka-boneka itu memainkan adegan-adegan yang benar-benar terjadi yang dialami orang-orang yang hidup pada tahun 1965 saat sedang ramai tentang gerakan PKI. Misalnya adegan saat Tupu mencari katak untuk memberi makan adiknya (Moyo).
“Papermoon mengambil potong-potongan cerita kejadian nyata dan dikemas dalam kesatuan cerita,” kata Ria. Ria menerangkan proses pementasan Mwathirika sudah dimulai sejak satu tahun yang lalu. Salah satunya dengan melakukan komunikasi dengan orang-orang yang hidup pada jaman PKI.
“Kita tanya orang-orang terdekat yang mengalami sejarah (jaman PKI). Teman-teman nanya eyang, bapak ibu, tetangga dan tentu saja dari buku sejarah,” terang Ria.
Mwathirika
Cerita Mwathirika berkisah tentang Moyo dan Tupu, kakak beradik yang dibesarkan oleh ayahnya, Baba, pria pekerja keras yang hanya memiliki satu tangan. Mereka adalah keluarga harmonis yang bertetangga dengan Haki yang memiliki seorang anak perempuan, Lacuna yang selalu duduk di kursi roda. Mereka adalah tetangga baik.
Hidup bertetangga mereka yang baik-baik saja mendadak mengalami perubahan besar semenjak terjadi konflik besar di tataran penguasa, lapisan yang tak pernah mereka pahami. Perubahan itu terjadi hanya gara-gara sebuah gambar segitiga di pintu rumah dan sebuah peluit kecil berwarna merah.
Tentang pementasan Mwathirika ini, Ria mengatakan, pementasan ini bukan tentang siapa yang membunuh siapa, tentang sejarah kehilangan (dan kehilangan sejarah) dalam hidup kita. “Bukankah kalau kita tahu tentang apa yang terjadi di masa  lalu, maka kita bisa memahami kenapa kita berdiri di sini sekarang?” sebut Ria dalam katalog pementasan.(Jogjanews.com/joe)
Category : HEADLINE, teater
Tags : , , , , , , , ,

05 Desember 2010

mwathirika : di mata seorang mira asriningtyas ...

(mira asriningtyas is a fashion blogger, thepicnicgirl , who wrote MWATHIRIKA in a very sweet and deep way... thank you, mbak mira...)


ReviewReviewReviewReviewReviewMwathirika: Ketika Merah adalah Salah


Mwathirika adalah sebuah pertunjukan boneka yang minim kata-kata dan menyentuh melalui visual semata. Semacam mengintip secuil kehidupan orang lain dari kejauhan: menangkap kesan yang begitu dalam, sementara pesannya dikembalikan kepada referensi penonton begitu saja. Papermoon Puppet Theatre membawakan kisah ini pada tanggal 1-3 Desember lalu di LIP dengan manis sekaligus getir.

*****

Dibuka dengan gambaran kelam dan menegangkan melalui boneka raksasa bermata satu, video singkat, dan ramai-ramai orang berbendera~ memberikan kesan bahwa kisah ini akan mengangkat teror masal yang kini telah menjadi sejarah yang terpinggirkan.

Berikutnya, kepolosan dan keceriaan Tupu menghadirkan keajaiban kecil dalam dunia yang sama sekaligus terasa jauh dari kekacauan yang dihadirkan di awal cerita.

Keseharian kanak-kanak yang ceria dan permainan-permainannya serasa dongeng yang menjadi nyata. Konflik yang dialaminya pun sebatas diganggu anjing iseng yang membuat Moyo, kakaknya menjadi sosok yang begitu heroik dan melindungi. Pun ketika ayah mereka yang penyayang, Baba, pulang membawakan oleh-oleh balon merah untuk menghibur Tupu yang sedang ngambek. Kehangatan dan kebahagiaan adalah hal yang sehari-hari.

Hubungan mereka dengan tetangganya, Haki, dan putrinya, Lacuna pun membuat kebahagiaan sederhana di lingkungan ini terlihat ideal. Ideal sebagaimana adanya, begitu saja. Hiburan anak keliling kompleks, kotak musik yang membuat ingin, permainan sederhana, dan kasih sayang yang begitu adanya.

Bagi saya, kedamaian yang mengambang di udara ini justru terasa begitu menyayat. Kebahagiaan yang wajar namun dinaungi dengan teror yang memungkinkan semua itu terenggut begitu saja.

Semuanya berjalan begitu cepat.

Seorang asing menorehkan segitiga merah ke daun jendela keluarga kecil itu dan segalanya berubah. Tetangga yang ketakutan, sosok ayah yang dibawa pergi begitu saja, meninggalkan ruang kosong yang menganga dengan dua kakak beradik kecil yang harus mampu bertahan di dalamnya.

Semuanya berjalan begitu cepat dan tidak adil.

Ketika Moyo sang kakak mulai tidak sabar menanti kepulangan ayah dan menuntut orang-orang yang membawa pergi ayahnya, dia pun ditangkap karena memiliki peluit merah. Peluit merah yang juga dimiliki oleh adiknya, Tupu, untuk ditiup ketika sepi, takut, dan membutuhkan kehadiran salah satunya.

Ya, seperti saat Tupu kecil diganggu anjing iseng lalu meniupkan peluit merah itu untuk memanggil kakaknya. Sesederhana itu. Namun pada saat penuh teror di dalam sejarah yang terpinggirkan ini, segala yang merah adalah salah dan peluit itu berwarna merah.

Tupu yang sebatang kara adalah anak yang tercoreng noda merah yang tidak seharusnya. Tidak ada orang dewasa yang berani menolongnya, anak-anak dilarang mendekatinya, dan sepi itu tidak mudah dimengerti olehnya.

Takut adalah perasaan yang begitu gelap. Takut membuat orang mengabaikan kemanusiaannya. Sedihnya, takut kepada seorang anak polos adalah hal yang sewajarnya: tidak ada yang mau terciprat noda merah yang tak sengaja ditanggung Tupu.

Kepedihan masih mengambang dengan suara sayup-sayup peluit Tupu serta denting manis kotak musik Lacuna. Gaungnya seperti mengingatkan kita untuk tidak segera melupakan mereka. Sayangnya kita adalah bangsa yang begitu mudah lupa dan ketidakadilan pun mampu terulang. Korbannya? Mwathirika-nya terkadang adalah mereka yang polos, berjarak, dan tidak mengerti.

*****

Selain kuat dalam menyampaikan kisah melalui kesan, pentas ini didukung dengan video work yang tepat, musik yang mengena, serta setting dan properti yang indah sekaligus naratif. Pemain-pemainnya bagaikan memberikan nyawa bagi seluruh boneka baik yang bergerak maupun yang diam. Panggung itu hidup dan bercerita, begitu saja.

Sekilas pentas ini mengingaktan saya pada buku The Boy in Striped Pyjamas yang polos dan hubungan pedih kakak beradik dalam film Graveyard of the Fireflies. Diwarnai dengan berbagai simbol, pentas ini menyisakan ingatan pedih yang menyesakkan serta gaung suara peluit yang sepi. Gaung itu menyisakan sebuah pertanyaan yang mengganggu saya: bagaimana sesungguhnya bunyi peluit itu di dunia nyata?

*****

*Photographed by Dito Yuwono ( http://dreamiy.multiply.com/photos/album/19/The_Grey_History_of_Mwarithika )

*Further reading: The Indonesian Killing 1965-1966 (Robert Cribb)
more writings of Mira is HERE !!



04 Desember 2010

mwathirika : di mata WULANG !!

(wulang sunu- is a students of Indonesia Art Institute -ISI, loves to make artworks, and helping MWATHIRIKA production as the front desk's person .. made this artwork, and dedicated for Tupu- a character in MWATHIRIKA... thank you, Wulang!!! This is AWESOME!!! )

Ganjil


Mwathirika (sebuah lakon teater boneka papermoon) yang dipentaskan di LIP. Tidak perlu diceritakan lagi bagaimana ceritanya, namun satu hal yang kukatakan untuk pentas ini, yaitu "Ganjil". Mengapa ganjil? Boneka-boneka yang lucu dipadukan dengan dunia yang atmosfernya gelap. Namun justru keganjilan ini INDAH.sudah segini saja.
(Gambar diatas adalah gambar Tupu salah satu karakter dalam Mwarithika yang kubuat dalam versiku.)


(you can see more stuffs from Wulang in HERE !!! )

03 Desember 2010

mwathirika : di mata seorang suryo hapsoro a.k.a yoyok ...

 

 (suryo hapsoro is a student of Gadjah Mada University, who joined Mwathirika production as the production staff .. he is also a winner of a writing competition... thank you ade' yoyoook!!!)

Tentang Cinta dan Goresan Luka


Pada tanggal 1 - 3 Desember telah terselenggara sebuah pementasan, MWATHIRIKA. Pentas yang menuai banyak pujian dan menguras banyak air mata ini menurut saya sangat inspirasional. Bangga dan gembira bisa menjadi salah satu bagian dari prosesnya. Terima kasih untuk Mbak Ria, Mas Iwan, dan Frau Aniek yang bersedia menampung saya untuk belajar.

Mengisahkan tentang kehidupan bertetangga Baba, seorang ayah bertangan satu, yang hidup dengan dua anaknya, Moyo dan Tupu. Damai melingkupi kehidupan mereka dengan tetangganya Haki dan anaknya yang harus memakai kursi roda, Lacuna.

Tapi tentram itu harus tercabut dalam hidup mereka hanya karena coretan segitiga merah oleh orang tak dikenal. Goresan pertanda si empunya rumah harus ditangkap tidak jelas alasannya apa. Satu yang jelas mengapa Baba ditangkap adalah karena ia “ditandai”. Moyo, ingin mencari keberadaan ayahnya. Ia menanyakan pada orang yang berseragam sama dengan yang menangkap ayahnya. Lagi-lagi Moyo harus ditangkap hanya karena ia punya “tanda”. 

Lacuna, sebagai teman ingin menghibur tetangganya Tupu yang sekarang tinggal sendirian setelah ayah dan kakaknya hilang. Tapi Haki selalu melarang Lacuna mendekati Tupu karena takut terkena “tanda” juga.
Pada akhirnya memang semuanya merasakan kesedihan. Semua menjadi korban, sesuai dengan arti kata mwathirika yang diambil dari bahasa Swahili artinya korban dalam bahasa Indonesia.



Dua hal setidaknya yang bisa saya temukan dan sampaikan :

Pertama tentang dua keluarga yang ada anggotanya tidak lengkap fungsi tubuhnya. Baba dan Lacuna menggambarkan sosok yang merasakan suatu kehilangan. Dalam pentas yang didedikasikan untuk penderita tuna rungu pada hari Deaf International (3 Desember), seakan mengingatkan bahwa antara mereka mungkin sama-sama memiliki rasa kehilangan, tapi mereka masih punya satu hal yang sama yang tidak akan hilang dalam hidup mereka. Cinta. Kita dan mereka masih punya hak yang sama untuk mencintai dan dicintai.

Baba seorang ayah yang sangat mencintai kedua anaknya. Bahkan ketika ia ditangkap oleh dua prajurit, masih juga menyempatkan diri untuk memperbaiki kuda mainan milik anaknya Tupu. Tidak jauh berbeda dengan Moyo. Seorang kakak yang belum saatnya harus bertanggung jawab penuh atas adik kecilnya yang sangat dicintainya.

Haki juga merepresentasikan sosok ayah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki seorang anak yang lumpuh, dengan segala ketahuan dan ketidaktahuan, ketakutan dan keberanian, berusaha menjaga anak tercintanya supaya tidak sampai terjadi kesalahpahaman. Walaupun memang akhirnya tidak berhasil mencapai keinginannya menjaga, Lacuna, anaknya tersebut.

Saya berusaha melihat secara lebih mendalam. Bukan tidak mungkin kalau apa yang terjadi dengan anaknya itu adalah karena ketakutan Haki mengungkapkan fakta. Sekadar melarang tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sekadar menimbulkan ketakutan yang dipaksakan tanpa kognisi yang memadai.
Mirip dengan apa yang terjadi pada periode paska Gestapu, periode yang menjadi inspirasi pentas MWATHIRIKA ini. Dalam ceritanya hanya dikatakan bahwa si “segitiga” itu salah. Mereka harus dibasmi. Mereka tidak boleh didekati, dan mereka itu berbahaya. Padahal apa yang terjadi ketika memaksakan perlakuan dengan berbekal hanya sedikit tahu, sangat mungkin mengakibatkan bahaya yang lebih besar tanpa disadari sebelumnya.

Kedua tentang gores luka yang diingatkan. Dengan misi mengajak melakukan rememorasi, MWATHIRIKA berhasil merealisasikan suatu usaha yang kadang tidak terpikir oleh kita semua. Mengisahkan kembali tentang sejarah. Sejarah tentang ingatan masa lalu yang memang tidak selalu indah.
“ingatan tidak hanya sekadar luka goresan tapi mengenali luka bekas goresan tersebut”. Artinya sejarah bukan hanya sebatas diingat, tapi juga diperlukan pemaknaan atas suatu kejadian di masa lampau untuk lebih dapat dikatakan berhasil “mengingat”.

Banyak hal yang baru saya tahu ketika melihat simbol-simbol yang tervisualkan dalam pentas teater boneka ini. Sebelumnya jarang pernah saya mendengar cerita tentang Gestapu dan kejadian setelahnya. Pengetahuan saya hanya sebatas penculikan tujuh pahlawan revolusi, Tritura, dan tanda ET (Eks Tapol) pada KTP.
Cerita tentang pesta ulang tahun partai itu, lambang segitiga merah, cara pemusnahan dengan dilempar ke jurang dan yang lainnya baru saya temukan dari menonton pertunjukkan MWATHIRIKA ini.

Mengutip kata-kata dari Paul Ricoeur, “and the tiniest way of paying out debt is to tell and retell what happened.. by remembering and telling, we’re not only prevent forgetfulness from killing the victims twice, we also prevent their life stories from becoming banal., and the events from appearing as necessary” .

MWATHIRIKA berhasil membantu saya mengenali goresan luka itu dan menghidupkan kembali jejak tentang masa kelabu 45 tahun yang lalu.

Gondomana, 4 Desember 2010

mwathirika : di mata INSULINDE !!!


(Insulinde is Indrawan Prabaharyaka and Widyastuti Prabaharyaka a wonderful traveler couple! they had really interesting point of view to see life.. :) thank you, INSULINDE... your writing is a big pleasure for mwathirika)

MERAH dalam MWATHIRIKA


Rentetan kejadian dalam Gerakan 30 September 1965 (G-30-S) adalah bagian dari pengalaman kolektif keluarga saya.

Eyang Kakung dipenjara selama 9 tahun karena dituduh sebagai salah satu kolaborator Partai Komunis Indonesia. Dampaknya adalah trauma kolektif. Sebuah rumah tangga kehilangan tulang punggung keluarga. Juga pandangan buruk dari masyarakat (Ayah saya diusir dari kelas Etika karena dimaki anak PKI oleh gurunya).

Anak-anak Kakung tumbuh tanpa sempat merasakan pengalaman remaja karena harus bekerja sementara Kakung dipenjara. Anak-anak itu berjualan kayu bakar di pasar. Demi mengganjal setengah lusin perut, bubur ditelan untuk menahan rasa lapar. Mungkin dari sanalah anak-anak Kakung mulai memupuk dendam.
Setelah Kakung keluar dari penjara, dia diganjar dengan KTP istimewa oleh-oleh dari pemerintah Orde Baru. Biopolitik. Tanda Eks-Tapol yang ditera di setiap KTP.

Lalu anak-anak Kakung menumbukan dendam. Generasi kedua dari eks-Tapol dipasung hak-hak warganegaranya.
 
 


Boneka Kertas Itu

Saya adalah salah satu dari generasi ketiga eks-Tapol. Malam ini saya saksikan diorama elegi PKI.
Selama lebih dari 60 menit, saya menyaksikan hantu-hantu masa lalu yang terekam dalam boneka kertas. Warna merah menyala itu mencekat.
 
 
 
 
Kenangan saya menjelajah ke masa lalu. Rekonstruksi ruang dan waktu ketika Kakung dibawa paksa oleh orang-orang berseragam ke dalam truk. Lalu setelahnya, anak-anak yang menunggu tak pasti kapan Bapaknya pulang dari penjara.

Papermoon membawakan cerita merah ini nyaris tanpa kata. Maka, saya bisa bebas menerjemahkan kisahnya sesuka rasa. Saya menjadi Tupu, anak perindu bapaknya si tukang kayu.
 
 
Dari Mwathirika, saya belajar bahwa sejarah tidak selalu berhasil menyimpulkan peristiwa-peristiwa dengan sempurna apalagi memuaskan. Tapi saya menemukan pencerahan. Rasa sakit bisa muncul bersamaan dengan keindahan.

 
check more articles by INSULINDE in HERE !!!
 

mwathirika : di mata seorang saila rezcan ...


saila rezcan is a student of Gadjah Mada University.. watched mwathirika for 2 times
(thank you, saila... it's an honor to be written by a talented writer like you.. this writing is really beautiful... and yes.. you got the point! love! )

  MWATHIRIKA ada di mana-mana   

   

Mwathirika, sebuah kata dalam Bahasa Swahili yang dalam Bahasa Indonesia berarti Korban. Sebuah pementasan teater boneka oleh Papermoon Puppet Theatre ini bercerita tentang sejarah abu-abu Negara ini, yaitu peristiwa pasca September 2010. Bagi saya pribadi, pemilihan tema yang dekat dengan kita sendiri merupakan salah satu nilai plus dari pementasan ini. Karena tema yang dekat mengajak kita untuk melihat “kita”, kita diajak untuk kembali melihat kaca spion, sudah sejauh mana jarak kita dari masa lalu? Mengapa kita berdiri di sini sekarang? Mau pergi ke mana lagi selanjutnya?

    Sebelum pertunjukkan dimulai, tampak setting panggung dengan tokoh Baba dan Haki duduk di kursi, seperti sedang minum teh. Alunan lagu dengan suara vokal perempuan yang sangat vintange mengiringi satu persatu penonton yang masuk. Walaupun saya tak tahu lagu apa itu, entah kenapa ada perasaan satir yang saya rasakan saat mendengarnya, padahal beat lagu itu tidak bisa dibilang mendayu. Hebat, kekuatan musik memang hebat. Di sini saya tidak akan menceritakan bagaimana alur cerita pementasan akan berjalan, tidak. Toh inti cerita abu-abu ini selalu sama saja. Saya hanya ingin memberikan beberapa pemaknaan yang saya tangkap dari pementasan ini.

|Mata

Sebuah instalasi berbentuk mata yang menggantung di samping rumah Baba saya artikan sebagai lambang sebuah alat untuk melihat dan membedakan mana yang benar dan salah. Mata ini bergerak-gerak di bagian awal pementasan, kemudian tokoh Baba keluar dari mata itu. Maka ketika di bagian akhir pementasan sang mata ini jatuh dan mati, saat itulah masyarakat seolah buta. Apapun, siapapun yang berhubungan atau bahkan hanya menyentuh sedikit tentang segitiga merah, akan langsung dimusnahkan. Seperti Tupu dan Lacuna yang akhirnya hilang hanya karena meniup peluit berwarna merah.
Mata juga terdapat pada dinding rumah Haki. Namun mata yang ini berbeda dengan mata di rumah Baba, mata ini lebih saya asumsikan sebagai lambang pengawas, pengawas atas apa yang dilakukan masyarakat. Mungkin sedikit mengingatkan saya pada istilah masa Orde Baru “dinding rumah punya mata dan telinga”.

|Tukang mainan

Tokoh tukang mainan yang menyebarkan bendera merah dengan penuh suka cita ini bagi saya mengingatkan pada bagaimana awal mula PKI masuk pada masyarakat kelas bawah: membagi-bagikan sesuatu. Saya teringat salah satu scene pada Film Soe Hoek Gie, di mana saat itu PKI membagi-bagikan kaos pada masyarakat, dan masayarakat yang lugu dan tak tahu menahu mengenai politik tentu saja menerima pemberian itu dengan gembira. Pada masa itu, rakyat kecil mana sih yang tak antusias terhadap sesuatu yang gratis? Bahkan si tukang mainan pun mungkin hanya orang awam yang membagikan bendera karena diberi upah, mungkin.

|Baba

Berasal dari Bahasa Swahili. Baba berarti Ayah. Tokoh Baba yang bertangan satu benar-benar berhasil merepresentasikan wong cilik yang lemah, tak berdaya yang jelas tak memiliki niat sedikitpun untuk melakukan kudeta terhadap pemerintah. Ia hanya orang biasa yang hidup dan bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, hanya itu.

|Haki

Haki juga masih berasal dari Bahasa Swahili, artinya Kanan. Sungguh cara yang menarik untuk menuangkan bagaimana paham pernah terbagi dua antara “orang kiri” dan “orang kanan”. Haki merupakan tetangga Baba yang menurut saya jauh lebih paham politik dibandingkan Baba yang polos. Ia oportunis, memilih untuk menghindari keterlibatan dengan “kiri”. Entah karena ia benar-benar berideologi “kanan” atau hanya karena takut.

|Moyo

Moyo, dari Bahasa Swahili artinya Hati. Seorang kakak yang hanya tahu bahwa ia harus menjaga adiknya saat sang Ayah “menghilang”. Namun akhirnya ia pun harus ikut hilang.

|Tupu

Tupu artinya Kosong. Nama yang pas untuk sebuah karakter yang begitu polos dan lugu. Tupu hanya tahu makan jika lapar, menangis bila sedih, tertawa saat gembira, dan takut jika sendirian……………………………………

|Kesedihan

Kejadian pasca September 1965 jelas sudah banyak dibaca, diketahui serta dituangkan dalam tulisan-tulisan, karya-karya visual, dan yang lainnya. Kita semua tahu bahwa bangsa ini pernah memiliki sejarah abu-abu yang menyesakkan. Sangat menyedihkan melihat Tupu ditinggal sendirian karena Ayah dan Kakaknya menghilang diambil tentara, sangat menyakitkan melihat animasi di panggung bagian belakang yang menampilkan gambar boneka-boneka manusia yang di dadanya tergambar lambang segitiga merah diambil oleh tangan-tangan raksasa kemudian menghilang.
Namun bukan kematian-kematian itu sendiri yang membuat saya sesak nafas, jauh lebih dalam daripada itu, jauh lebih dalam daripada sekedar “kok tokoh utamanya mati…”, “kok ceritanya sad ending…”, “kasian…padahal bonekanya lucu…”. Kesedihan yang saya rasakan adalah kesedihan saat menyadari, bahwa betapa bangsa ini pernah begitu kejam membantai saudaranya sendiri…….. Saya tak habis pikir bagaimana bisa kejadian sekejam itu bisa terjadi, manusiakah orang yang ada di balik semua ini?

Ada orang yang berpendapat bahwa mengingat-ingat masa lalu yang kejam adalah sesuatu yang sia-sia, kurang kerjaan, dan hanya membuang waktu saja. Tapi tidak bagi saya. Melihat dan mengingat apa yang terjadi di masa lalu dapat membuatmu berpikir ulang tentang semuanya. Menyadari adanya kekejian di masa lalu membuat saya berdoa, semoga sejarah kelam itu tak akan pernah terulang lagi di masa depan, semoga kami, manusia-manusia yang hidup di masa sekarang dapat belajar untuk lebih menjadi manusia. Sudah terlalu banyak cerita tentang pembunuhan massal, genosida, pembantaian, perang dan segala konspirasi busuk yang menyayat di masa lalu, di mana nyawa manusia tak dihargai sebagaimana mestinya. Sudah banyak kejadian mwathirika-mwathirika yang lain di dunia ini. Sudah cukup.


(you can check saila's Blog in HERE )

02 Desember 2010

mwathirika : di mata seorang elga ayudi ...


(elga is a university students... on the way to finish her degree.. ;) thank you, dear elga!!! )

Mwathirika: Rasa itu bernama “Kehilangan”

Kadang, kita tidak berhak memilih hidup seperti apa yang kita inginkan.Kita tercebur begitu saja dan menerima segala macam situasi beserta setiap konsekuensi hanya dengan…
menjadi kita..
- perasaan setelah menonton Mwathirika-



Dalam bahasa Swahili (nama suku di Afrika Timur), Mwathirika berarti “KORBAN”. Inilah cerita tentang sebuah kota antah-berantah bernama Mwathirika dengan seluruh penduduk yang menjadi korban. Sebuah cerita tentang sebuah sejarah abu-abu dengan pekatnya makna kehilangan. Setiap nama tokoh yang diceritakan memiliki arti sendiri dan mereka tidak memiliki kondisi sempurna yang membuatnya utuh sebagai “seorang” manusia.

Meski saya pernah membaca naskahnya dan memahami alur awalnya, lebih baik kali ini saya simpan sendiri. Saya akan mencoba bercerita dari sudut pandang penonton, sama seperti lainnya. Penonton yang terbahak di awal cerita hanya untuk kemudian tercekam rasa pilu yang biru.


Tentang Cerita:

Adalah seorang anak kecil yang iseng ceria bernama Tupu (Swahili for ‘empty’) yang sehari-harinya menikmati masa kanak-kanaknya tanpa beban. Main kuda-kudaan, lari-lari atau hanya iseng main tidak jelas. Dia punya seorang kakak laki-laki yang terpaut sedikit lebih tua bernama Moyo (Swahili for ‘heart’). Sang kakak ibarat superman bagi Tupu yang berbadan mungil. Mereka mengalungkan sebuah peluit merah di leher mereka masing-masing sebagai alat komunikasi rahasia. Dimanapun Tupu berada atau dalam bahaya, bunyikan peluit itu dan Moyo akan datang secepat ia bisa. Waktu Tupu diganggu oleh seekor hewan buas sampai gemetar tidak bisa bergerak, ia membunyikan peluit merah itu keras-keras dan Moyo datang seperti jagoan. Moyo meraih Tupu dan terpaksa melempar kuda-kudaan kesayangan Tupu agar hewan pengganggu itu pergi.
Tupu yang ketakutan bersembunyi gemetar di balik ketiak kakaknya. Moyo menepuk-nepuk kepala sang adik berusaha menghiburnya. Ia mencoba melihat keadaan apakah sang hewan sudah pergi. Namun saat mengambil mainan itu, ternyata rodanya sudah rusak. Tupu sedih sebab mainan kesukaannya itu rusak, tapi ia tidak menyalahkan kakak yang sudah menolongnya. Hanya sedih sebab ia tidak bisa main lagi. Untunglah datang Baba (Swahili for ‘father’), ayah mereka yang membawakan sebuah balon merah khusus untuknya. Tupu mengadu pada Baba dan bercerita dengan semangat bahwa Moyo sangat juara melindunginya. Baba menatap anak sulungnya dengan bangga, sang kakak sudah menjalankan tugas menjaga adiknya.

Saat Tupu asyik bermain balon, seorang paman tetangga lewat dan menyapanya. Ia adalah Haki (Swahili for ‘right’) ayah Lacuna, gadis kecil berkursi roda yang tinggal di seberang rumahnya. Tupu pamer balon merahnya. Haki tersenyum sambil menepuk kepalanya. Ia mengetuk jendela rumah dan memanggil nama putrinya. Ia membawakan sebuah kotak musik untuk putri tunggal kesayangannya itu. Lacuna keluar menyapa lewat jendela lalu keluar sambil memutar roda kursinya. Ia menyukai kotak musik pemberian ayahnya. Tupu ingin melihat kotak musik itu dari dekat tapi Lacuna tidak memberikannya. Kotak musik itu hadiah ayah, karena itu tidak boleh sembarang dipegang orang lain.

Kemudian entah mengapa dan bagaimana…ada peristiwa yang datang bagai badai. Mereka tidak sadar sedang kedatangan bayangan yang gelap. Tiba-tiba rombongan orang bersenjata lalu-lalang. Orang-orang mulai hilang tanpa ada yang tahu kemana.
Saat ingin membetulkan kuda-kudaan Tupu anaknya, Baba melihat ada coretan berwarna merah di daun jendela rumahnya. Kesal, ia coba menghapusnya. Mengira ada gerombolan orang iseng menyebalkan sengaja mencorat-coret. Namun Haki tahu sesuatu terjadi dan mendadak bungkam saat Baba menyapa.
Tak lama datanglah dua orang bersenjata bertanya siapakah pemilik rumah dengan daun jendela dicoret merah itu. Haki sejenak ragu menjawab, dengan takut diarahkannya telunjuk pada Baba yang sedang asyik membetulkan mainan. Kedua orang bersenjata lalu mengajaknya pergi dengan sopan. Tanpa menaruh curiga Baba mengiyakan dan langsung beranjak.

Tapi saat akan pergi bersama mereka, terdengar riuh anak-anaknya dari kejauhan. Baba ijin sebentar pada penjemputnya untuk berpamitan dengan anak-anaknya. Cepat diselesaikannya kuda-kudaan itu dan diberikannya pada Tupu yang langsung girang bukan kepalang. Tapi Moyo diam…ia merasa…aneh. Bergantian dipandangnya kedua orang bersenjata itu dengan takut-takut namun mereka memang menakutkan. Moyo tidak ingin Baba pergi. Saat Baba memeluknya, Moyo hanya merasa…hampa.
Entah sudah berapa lama Baba pergi, entah mengapa juga Baba belum kembali. Tupu mulai merengek lapar sebab di rumah tak lagi tersedia makanan. Moyo, meski sedih harus memutar akal bagaimana caranya agar adiknya dan ia tak lapar. Berdua mereka mengaduk rawa, menyusuri batu kali dan merogoh-rogoh lubang hingga menemukan kodok. Siapa tahu bisa dimakan, pikir mereka.

Tupu tidak suka makanannya. Bau dan tidak enak!! Berkali-kali Moyo membujuknya, Tupu tidak mau. Ia masih kecil…ingin makan yang enak…ingin Baba pulang. Moyo mencoba mencari kabar dengan membawa foto Baba dan menunjukkan pada orang-orang bersenjata yang sering lewat dekat rumahnya akhir-akhir ini. Akhirnya, seorang bersenjata merasa mengenali wajah di foto itu. Tertegun ia melihat peluit merah tergantung di leher Moyo. Memanggil temannya, mendadak mereka menyeret tangan Moyo dan membawanya pergi.
Tupu sendirian…
Ia kesepian dan bingung mengapa kali ini Moyo juga tidak kembali? Ia mencoba meniup peluitnya berkali-kali. Sampai lirih…tapi Moyo tidak datang secepat biasanya. Moyo tidak datang.
Lacuna mendengar bunyi peluit yang makin lirih lalu memutar roda kursinya mendekati Tupu. Ia meminjamkan kotak musik kesayangannya agar Tupu gembira lagi. Tidak berhasil. Tupu tidak mau. Tupu hanya ingin Baba pulang, hanya mau Moyo datang. Haki melihat mereka berdua dan dengan kasar menyuruh Lacuna pulang. Ia hanya memandang kosong ke arah Tupu yang terisak sendiri. Di tangannya ada sebuah celurit menetes merah yang terlihat gemetar dan tak mantap digenggam.

Tupu mulai putus asa. Tenggorokannya sudah sakit. Ia tak mengerti mengapa paman, bibi, kakek tetangga yang biasanya ramah menyapa sekarang bahkan tak berani melihatnya. Mereka memandang dengan iba namun tak berani bertanya. Tak ada yang mendekati Tupu sekedar menanyakan keadaannya, apakah anak kecil itu baik-baik saja? mengapa menangis?
Tupu tak bisa bertanya pada siapa-siapa. Tak ada yang menjawab pertanyaannya: Ke mana Baba? adakah yang melihat Moyo? Hingga Tupu hanya bisa memeluk diri sendiri sambil terisak makin keras dan lemah karena peluitnya makin lirih berbunyi. Lacuna melihat Tupu dari seberang rumah dan meletakkan kotak musik kesayangannya di sisi Tupu. Ia memberikannya, semoga Tupu tak lagi menangis.
Di hari lain, Lacuna menoleh takut-takut adakah yang melihatnya mendekat ke rumah Tupu. Ia mencoba memanggil-manggil Tupu tapi tak ada jawaban. Rumah itu kosong. Aneh. Ia lalu melihat sekeliling dan melihat gundukan bulu coklat tergeletak di tanah. Itu adalah topi hewan kesayangan Tupu. Tupu tak pernah lupa memakai topi berkuping merah muda itu. Lacuna memungutnya sambil memanggil nama Tupu. Tak sengaja ia melihat peluit merah tergeletak di dekat tempat topi itu. Ia meraihnya dan mencoba meniupnya. Sekali…dua kali..lama-lama makin keras hingga ia tak menyadari derap kaki tegap yang mendekat.
……………………………………………

Kursi roda Lacuna kosong dan terbalik di dekat topi Tupu. Rodanya masih berputar perlahan tanpa pemilik di atas dudukannya…


Tentang Pementasan:

Ini adalah cerita tentang sebuah pertunjukan teater boneka yang dipentaskan oleh Papermoon Puppet TheatreMwathirika“. Pertunjukan yang memakan waktu proses berbulan-bulan ini diprakarsai oleh seorang sutradara perempuan bernama Maria Tri Sulistyani – peraih hibah Empowering Women Artist 2010-2011 dari Kelola –  berkolaborasi dengan Iwan Effendi seorang perupa sekaligus direktur artistik pertunjukan ini (dan suami sang sutradara tentunya ^^) di Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta tanggal 1-3 Desember 2010 berjudul “


Tentang Dibalik Cerita:

Saya tak sadar sudah mengalirkan tetesan hangat di mata saat peluit yang ditiup Tupu makin lirih. Tenggorokan anak sekecil itu pasti sangat sakit karena sudah mencoba meniup peluit sekuat tenaga begitu lama. Rasa tercekat di tenggorokan yang terasa pekat karena menyadari bahwa anak itu tak mungkin lagi bertemu dengan Baba yang ia sayangi dan kakak yang ia kagumi. Mereka sudah diambil dari sisinya dan bahkan tidak menjelaskan mengapa.
Cerita Mwathirika ini memiliki potongan pengalaman personal akan sebuah cerita kehilangan di sebuah masa sejarah abu-abu. Masa dimana orang kehilangan pegangan dan tak lagi tegas memisahkan mana hitam dan putih. Sejarah yang enggan diceritakan.
Bagi sebagian orang yang berada pada masa itu dan sebagian yang mengalami secara langsung, hingga saat inipun kadang masih merasa trauma bahkan ada yang takut menyebut secara terang-terangan.
Dan saya, yang hidup di masa sekarang, hanya bisa mengetahui peristiwa itu melalui buku sejarah dengan cerita setengah-setengah yang sudah diedit berbagai versi. Saya tak memahami benar apa makna kehilangan yang dirasakan orang tua atau kakek-nenek saya di masa itu. Yang saya ingat hanyalah potongan film sadis yang membuat saya trauma dan takut saat malam tiba. Tak ada alasan jelas mengapa saat itu orang-orang diambil dari keluarga mereka, bahkan oleh saudara sendiri. Padahal terkadang ada yang tak tahu apa duduk persoalannya, atau bahkan ada yang hanya pernah sekali menjadi pengisi acara. Selebihnya mereka tidak tahu mengapa.

Hanya bermodal cerita dari sana-sini, saya akhirnya mengetahui betapa pasca September ’65 itu adalah masa yang sangat kacau. Jika tak membunuh maka orang akan dibunuh. Tak ada lagi tempat bagi sebuah rasa bernama kemanusiaan. Setiap orang hanya bisa mengusahakan selamat dan aman. Yang kehilangan nyawa adalah korban, yang menghilangkan nyawa juga korban. Mereka tak bisa menentang keadaan yang mengharuskan mereka mengambil nyawa orang yang mereka kenal.

Dengan medium boneka yang kurang ekspresif dibanding manusia, mungkin cerita ini bisa disampaikan lebih mengena, meski tak persis maknanya. Sebab terkadang, kita mudah merasa curiga dengan beratnya cerita yang dibawakan oleh manusia. Lebih mudah membiarkan pikiran dibawa dalam suatu imaji khayal yang dibawakan boneka tanpa kata. Cerita yang penuh simbol dan makna hingga kita berhak menafsirkan sendiri dengan pemahaman yang ada.

Maka pada akhirnya MWATHIRIKA hanya ingin menyampaikan, bahwa semua adalah korban sia-sia ketika sebuah kekuasaan terlalu besar. Akhirnya hanya mengantar kita pada situasi yang memerangkap kita semua yang hidup di sekitarnya. Mungkin kita sebenarnya adalah boneka wayang dengan dalang entah-siapa-di-sana yang mengendalikan kekuasaan. Mungkin si dalang sedang tertawa menikmati kacaunya keadaan. Kekuasaan, siapapun pemiliknya, akan berusaha mengalahkan lawannya hingga yang tak ada satupun yang tersisa.

Hingga akhirnya tak satupun yang berdiri sebagai pemenang tanpa menjadi korban dengan satu rasa besar yang bernama:
KEHILANGAN.

 you can check elga's writings in HERE

mwathirika : in the eye of aprodhita ...

(aprodhita is an indie crafter, a friend that i met on blogger world... watching mwathirika for 2 times... thank you so much, mbak dita and mas agung for the wonderful pictures!!)


“MWARTHIRIKA” is a visual performance without words, about that dark history which we tell in an imaginative way, like a fairy tale. performed by Papermoon Puppet Theater, there's a Mbak Ria from Kuwaci Kecil as a founder and player. and the other team is a guys who's i know before,
there's my old friend Octo, Mas Iwan Effendi (Mbak Ria hubby) is friend of Ay and Amanda Mita which i know from her blog Perempuan Gimbal. and that night is my nite...my damn unforgetable nite !!!



the first theater that i see in Jogja is Waktu Batu from Theater Garasi, and that was the time that i feel ALIVE !!! i dunno how to describe the ALIVE meaning, but that is the part of the reason why i really love this town called Jogja. and when i move to Tangerang i just lost that feeling until this nite...
dedicated to:




 


Oh My Dear Lord...MWATHIRIKA JUST DAMN AWESOME !!! U GUYS MAKE'S ME ALIVE AGAIN !!!
thanks to u guys in Papeppermoon, especially Mbak Ria who give me 2 time oportunity to see ur damn good work for MWATHIRIKA.

and u guys just check about MWATIRIKA in HERE !!! hope it can show to around the world...they must see how this little bald girl named Ria :p and the gangs in Pappermoon makes the puppet fairy tale comes in to a great theater show that they can ever forget :) evaaaaaa evaaaaa.....!!!

*all pic took by my beloved Ay*

Happy Crafting Y'all...!!!
 
(you can check aprodhita's blog.. HERE !!)

mwathirika : di mata seorang indie !

 a lovely writing from a fiend about MWATHIRIKA... thank you, mbak indie...

Mwathirika: Ketika Teater Boneka Membuat Menangis 




Tadinya kupikir Baba, seorang bapak bertangan satu yang mukanya penuh kerutan, itu salah satu tokoh antagonis. Tapi begitu melihatnya berinteraksi dengan anak-anaknya, Tupu dan Moyo, ia langsung tampak sangat lembut.

Bagaimana ia menyapa anak-anaknya, bercanda dengan mereka, dan menyayangi mereka. Ketika Tupu merajuk karena kuda-kudaannya rusak, Baba menggantinya dengan sebuah balon merah yang ia bawa.

Sederhana, tapi entah mengapa begitu menyentuh.

Mungkin karena aku tahu, ada sesuatu yang akan terjadi di sana, yang tampak bahagia justru mengundang perasaan sedih. Itu pula yang kusangka saat pertama kali membuka-buka bukletnya. Tersirat perasaan kelam di sana.

"Masa sih?" tanya Indra yang sudah menonton latihannya berulang-ulang.

Hm. Aku tahu dia berpura-pura tenang dan menyembunyikan sesuatu.

Memang, mungkin aku yang salah melihatnya. Tapi aku tahu, akan ada sesuatu yang menyedihkan di sana. Begitu juga Mira yang ketika aku bertemu di akhir acara bercerita bahwa dia sudah sedih sejak awal acara.

Pertunjukan malam tadi benar-benar luar biasa. Papermoon Puppet Theatre yang dirintis oleh Mbak Ria dan Mas Iwan berhasil membawaku masuk ke dalam ceritanya. Dan ikut terhanyut dalam kisahnya yang unbelievably sad!

Kisah bagaimana kehidupan keluarga Baba yang harmonis dan lugu harus menjadi porak-poranda hanya karena segitiga merah yang digambar di salah satu jendelanya. Hubungannya dengan keluarga Haki dan Lacuna, anak perempuannya yang selalu duduk di kursi roda, juga menjadi hancur.

Bagaimana keluarga tersebut tercerai-berai akibat kepentingan penguasa.

Terakhir, Tupu yang masih kecil tampak begitu kesepian, sendiri, dan lemah. Sebelum akhirnya kisah ditutup dengan akhir yang lebih tragis lagi. Argh!

"So depressing," ujar Mira di akhir acara sambil mengusap-usap matanya.

Iya, dia menangis di sepanjang film (edit: pertunjukan, maksudku!). Begitu juga Mbak-Mbak Baju Lorek yang duduk di depanku. Berkali-kali dia menghapus air matanya dengan tisu. Hera matanya tampak sembab, walau mengakunya malam itu ia tidak menangis.

Aku sendiri nyaris menangis. Kerongkonganku sudah mulai tercekat. Mungkin kalau aku menontonnya sendirian, di kamar, seperti ketika aku menonton PS: I Love You, aku juga akan menangis sesenggukan.

Tapi, secara keseluruhan, pertunjukan semalam patut diacungi dua jempol! Pantas saja, di penghujung acara, penonton memberikan tepuk tangan yang cukup panjang untuk pertunjukan malam itu.

Sekali lagi, luar biasa! *plok-plok-plok-plok-plok...*

( indie is a boutique owner and a writer... check her blog HERE )